Rabu, 17 April 2013

PSIKOANALISA Freud Teknik DALAM Psikologi KONSELING

   Sejarah Perkembangan
 
Sigmund Freud (1856-1939) adalah pencetus pendekatan psikoanalisa. Ia adalah anak tertua dari delapan bersaudara yang hidup dalam keluarga otoriter. Pada mulanya ia belajar kedokteran, dan pada tahun 1880 menjadi salah seorang peneliti medis pertama yang meneliti unsur yang terdapat dalam tanaman coca. Selanjutnya Freud menghabiskan beberapa tahun di Paris dalam rangka belajar pada Charcot salah seorang psikoterapis paling populer di zamannya, yang kemudian mengajarkan teknik hipnosis. Dari sinilah kemudian ia mengembangkan metodenya sendiri yang disebut asosiasi bebas karena merasa bahwa hipnosis tidak begitu efektif. Dalam asosiasi bebas terdapat tindakan meminta pasien untuk berbaring dalam posisi rileks dan mengatakan apapun dalam pikirannya. Materi bawah sadar yang tercurahkan antara lain emosi yang kuat, ingatan terpendam, dan pengalaman seksual di masa kanak-kanak. Teori Freud sangat dipengaruhi oleh pengalaman emosional pribadinya dan pengalaman selama menangani pasiennya.
 
Metode terapi Sigmund Freud disebut psikoanalisis. Sejak teori dan terapinya menjadi dikenal dan digunakan oleh orang lain (mulai sekitar 1990), idenya terus dikembangkan dan dimodifikasi oleh para penulis dan praktisi psikoanalisa lainnya.
Sumbangan utama dari ide Freud yang bersejarah:
1.         Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami.
2.         Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar.
3.         Perkembangan pada masa dini kanak-kanak berpengaruh pada masa dewasa.
4.         Psikoanalisa menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk mengatasi kecemasan.
5.         Psikoanalisa memberikan cara-cara mencari keterangan melalui analisis mimpi.

B.            Hakikat Manusia
Sigmund Freud memandang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministik, mekanistik, dan reduksionistik. Menurut Freud manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah, dan oleh peristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima-enam tahun pertama dalam kehidupan. Menurutnya, tingkah laku dideterminasi oleh energi psikis yaitu id, ego, dan superego. Ia juga melihat tingkah laku sebagai sesuatu yang dinamis dengan transformasi dan pertukaran energi di dalam kepribadiannya.

C.           Perkembangan Perilaku
 
1.      Struktur Kepribadian
a)      Id merupakan
Id dalah sistem kepribadian yang orisinil. Kepribadian setiap orang hanya terdiri dari Id ketika dilahirkan. Id merupakan tempat bersemayam naluri-naluri, kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id bekerja menggunakan prinsip kesenangan.
b)      Ego
Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Ego adalah tempat bersemayam intelegensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan impuls-impuls buta dari Id. Ego bekerja menggunakan prinsip kenyataan.
c)      Superego
Super ego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian. Superego adalah kode moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Super ego bekerja menggunakan prinsip conscience dan ego ideal.


2.      Perkembangan Kepribadian
 
Menurut Sigmund Freud perkembangan psikoseksual ditandai dengan beberapa tahapan dengan zona kesenangan yang dominan pada waktu tertentu:
a)      Tahun Pertama Kehidupan: Fase Oral
Pada fase ini mulut merupakan zona utama kesenangan dan kepuasan dasar didapat saat menggigit dan menyedot.
b)      Usia Satu Sampai Tiga Tahun: Fase Anal
Pada fase ini kepuasan dirasakan saat menahan maupun buang air besar.
c)      Usia Tiga Sampai Lima Tahun: Fase Falik
Pada fase ini zona kesenangan terletak di organ seks, baik pria maupun wanita harus berupaya melalui hasrat seksual.
d)     Usia Lima Tahun Sampai Masa Puber: Fase Laten
Pada fase ini energi difokuskan pada aktivitas berpasangan dan penguasaan pembelajaran kognitif, serta keahlian fisik secara pribadi.
e)      Masa Puber: Fase Genital
Pada fase ini jikalau telah berjalan dengan baik, maka masing-masing gender merasa lebih tertarik satu sama lain dan muncul pola interaksi heteroseksual yang normal.

3.      Pribadi Sehat dan Bermasalah
 
a)      Pribadi Sehat
Memiliki mekanisme pertahanan yang baik. Maksudnya pribadi yang bisa mengorganisir struktur kepribadiannya dengan baik dan bisa menyelaraskan antara id, ego, dan superegonya. Dalam hal ini individu tidak mengalami pengalaman frustasi yang berlebihan dan Ego bertindak secara rasional dalam mengambil tindakan-tindakan untuk mengatasi kecemasan yang muncul.


b)      Pribadi Bermasalah
Memiliki mekanisme pertahanan yang buruk. Maksudnya pribadi yang tidak bisa mengorganisir struktur kepribadiannya dengan baik dan tidak bisa menyelaraskan antara id, ego, dan superegonya. Ego bisa saja membiarkan dorongan-dorongan atau menekan perasaan-perasaan seksual dengan melakukan tindakan yang irasional dalam menghadapi kecemasan.

D.           Hakikat Konseling
 
Konseling merupakan suatu proses kegiatan mengamati dan memahami kehidupan konseli yang menurut Freud sangat dideterminasi oleh pengalaman psikoseksual pada lima-enam fase pertama kehidupan atau masa kanak-kanak. Konseling psikoanalisa memperhatikan faktor-faktor ketidaksadaran yang terus-menerus mendorong dan mempengaruhi perilaku individu. Berbagai usaha dalam memahami kehidupan dan membantu konseli dalam konseling psikoanalisa adalah dilakukan dengan cara menginterpretasi ungkapan-ungkapan perasaan dan cerita konseli melalui hubungan tranferensi antara konselor adan konseli.  

E.            Kondisi Pengubahan
 
1.      Tujuan
a)      Pada dasarnya konselor menyadarkan konseli dari ketidaksadaran menuju ke kesadaran atas dorongan-dorongan yang menyebabkan perilaku bermasalah.
b)      Memperkuat agar ego lebih riel dalam bertindak, serta mampu berkembang sesuai dengan potensi-potensi yang dimiliki dan dapat beradaptasi dengan lingkungan dengan lebih baik.

2.      Sikap, peran dan tugas konselor
 
a)  Sedikit bicara tentang dirinya dan jarang sekali menunjukkan reaksi pribadinya.
b)  Percaya bahwa apapun perasaan konseli terhadap konselor merupakan produk dari perasaannya yang diasosiakan dengan orang yang penting di masa lalunya.
c)   Melakukan analisis  terhadap perasaan-perasaan konseli adalah esensi terapi.
d) Menciptakan suasana agar konseli merasa bebas megekspresikan pikiran-pikiran yang sulit setelah beberapa kali pertemuan tatap muka. Dengan cara meminta konseli berbaring di sofa dan terapis duduk di arah belakang kepala konseli sehingga tidak terlihat.
e) Berupaya agar konseli mendapat wawasan terhadap permasalahan dengan mengalami kembali dan kemudian menyelesaikan pengalaman masa lalunya.
f)   Membantu konseli menemukan kebebasan bercinta, bekerja, dan bermain.
g)  Membantu konseli menemukan kesadaran diri, kejujuran dan hubungan pribadi yang efektif, dapat mengatasi kecemasan dengan cara realistis dan dapat mengendalikan tingkah laku impulsif dan irasional.

3.      Sikap, peran dan tugas konseling
 
a) Berkomitmen untuk mengikuti proses terapi yang membutuhkan waktu cukup lama.
Menyampaikan seluruh perasaan, pengalaman, ingatan, dan fantasi yang dialami konseling.
c) Berkomitmen untuk menyelesaikan problem-problem yang dihadapi secara bertahap melalui sesi dan terminasi.

4.      Situasi hubungan
Situasi hubungan antara konselor dan terapis psikoanalisa adalah konselor cenderung untuk bertindak alami terhadap klien mereka. Alasannya adalah para konselor sedang berusaha untuk mempresentasikan diri mereka sebagai ”layar kosong”, tempat klien dapat memproyeksikan fantasinya atau asumsi yang terpendam berkenaan dengan hubungan yang amat dekat dengan dirinya. Dengan menjadi netral dan tidak terikat, maka terapis dapat meyakinkan bahwa perasan klien terhadap dirinya bukan akibat apa yang dilakukannya.

F.            Mekanisme Pengubahan
 
1.      Tahap-tahap Konseling
Tidak ada seperangkat praktik dalam psikodinamika yang disepakati bersama. Namun sesuai dengan tujuan konseling ini membantu konseli memahamai dorongan-dorongan ketidaksadaran ke kesadaran dan mengembangkan ego agar berkembang lebih baik, dalam hal ini ada beberapa isu penting dalam praktik konseling:
a)      Asesmen dilakukan oleh konselor agar memahami sejauhmana kemampuan konseli dalam merefleksikan diri dan membangun hubungan dengan konselor, sehingga konseling bisa dilakukan.
b)      Menegakkan aturan dan batasan yang jelas pada awal dan akhir sesi, keajekan pertemuan, jeda libur dan absen, memberikan latar belakang, dimana manipulasi atau upaya konseli untuk mengendalikan bisa dilihat dan selanjutnya dieksplorasi bersama konseli.
c)      Pentingnya wawasan konseli terhadap ekspresi emosi yang dirasakan sebagai bentuk katarsis konseli.
d)     Konseli seringkali akan mengulang perilakunya, pikirannya dan perasaannya di depan konselor yang dipandang sebagai bagian dari hubungan masa lalu. Oleh karenanya interpretasi transferensi oleh konselor bisa menyatukan sudut setiga pengalaman (orangtua atau masa lalu yang jauh, orang lain atau masa lalu yang tak terlalu jauh dan konselor atau saat ini atau transferensi), sehingga memberi wawasan pada pola perasaan atau perilakunya.
e) Pemeranan, dimana konseli tidak mampu mengatakan sesuatu, namun merasakan kebutuhan untuk memerankan perasaan, dapat dilihat sebagai cara agar ia tidak perlu bicara.
f)    Fokus kerja konseling ada yang mengatakan penting dan tidak peting.
g)  Ketika konseli merasakan perasaan negatif yang sangat kuat terhadap konselor, seringkali ada hasrat yang lebih besar di pihak konseli untuk meninggalkan sesi konseling. Dalam hal ini sikap konselor tidak boleh bersikap defensif, namun sebaliknya harus membantu konseli untuk memahami perasaan yang sedang melingkupi.

2.      Teknik-teknik Konseling
 
a)      Penggunaan hubungan sistematik antara klien dan konselor
Konselor dan terapis psikoanalisa cenderung untuk bertindak alami terhadap klien mereka. Alasannya adalah para konselor sedang berusaha untuk mempresentasikan diri mereka sebagai ”layar kosong”, tempat klien dapat memproyeksikan fantasinya atau asumsi yang terpendam berkenaan dengan hubungan yang amat dekat dengan dirinya. Dengan menjadi netral dan tidak terikat, maka terapis dapat meyakinkan bahwa perasan klien terhadap dirinya bukan akibat apa yang dilakukannya. Proses ini disebut pemindahan (transfered) dan merupakan alat yang sangat berguna dalam terapi psikoanalisa.
b)      Melakukan identifikasi dan analisis terhadap penolakan dan pertahanan
Ketika klien membicarakan permasalahannya terapis mungkin bisa mencatat bahwa si klien mengelak, memotong, atau mempertahankan diri dari perasaan atau fakta tertentu. Freud memandang penting untuk mengetahui sumber penolakan tersebut, dan kondisi tersebut akan menarik perhatian klien apabila terjadi terus menerus.



c)      Asosiasi bebas atau ”katakan apapun yang muncul dalam pikiran”
Tujuannya adalah untuk membantu klien membicarakan dirinya sendiri dengan cara yang cenderung tidak terpengaruhi oleh mekanisme pertahanan diri.
d)     Menganalisis mimpi dan fantasi
Tujuannya adalah untuk menguji materi yang muncul dari level kepribadian seseorang yang lebih dalam dan lepas dari pertahanan dirinya.
e)      Interpretasi
Para konselor psikoanalitik akan menggunakan proses yang digambarkan di atas, yakni transference, mimpi, asosiasi bebas, dan lain-lain untuk mengumpulkan materi guna melakukan interpretasi. Melalui penafsiran mimpi, kenangan, dan transference, seorang konselor berusaha membantu pasiennya utnuk memahami akar permasalahn yang dihadapinya dan kemudian mendapatkan kontrol yang lebih besar terhadap permasalahan tersebut serta lebih banyak kebebasan untuk melakukan tindakan yang berbeda.
f)       Beragam teknik lain
Ketika berhadapan dengan anak-anak bukanlah suatu hal yang realistis untuk mengharapkan mereka mampu menuangkan konflik dalam diri mereka ke dalam kata-kata. Sebagai gantinya para analisis anak menggunakan mainan dan permainan untuk memungkinkan anak mengeksternalisasi ketakutan dan kekhawatirannya. Beberapa orang terapis yang menangani orang dewasa juga menemukan hasil yang menggembirakan dengan menggunakan teknik ekspresif seperti seni, mematung, dan membuat puisi. Teknik proyeksi seperti Thematic Apperception Test (TAT) juga dapat menghasilkan hal yang sama. Dan pada akhirnya, para terapi psikodinamik biasanya mendorong para klien untuk menulis catatan harian atau autobiografi sebagai cara untuk mengeksplorasi kondisi masa lalu dan masa sekarang mereka.


G.           Hasil-hasil Penelitian
 
Gagasan Sigmund Freud dikembangkan oleh para pengikut Psikoanalisis berikutnya, dalam hal ini akan disebutkan hasil penelitian psikoanalisis kontemporer Erik Erikson yang memiliki perbedaan dengan psikoanalisis klasik Sigmund Freud. 
 
Psikoanalisis Freud menekankan pada pentingknya proses intrapsikis yang didominasi oleh Id sebagai faktor utama dalam mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang yang terjadi pada lima-enam tahun pertama. Berbeda dengan Erikson yang dikenal dengan teori perkembangan psikososial menekankan bahwa perkembangan individu terjadi sepanjang hayat dan menekankan pentingnya peran utama ego dalam mengontrol dorongan-dorongan dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

H.           Kelemahan dan Kelebihan Teknik Psikoanalisa dalam Konseling
 
Beberapa kelemahan konseling psikoanalisis adalah sebagai berikut:
  1. Pendekatan ini menghabiskan waktu dan biaya yang banyak.
  2. Pendekatan ini tidak terlalu berguna bagi konseli lansia atau bahkan sekelompok yang bervariasi. Yang paling banyak mendapatkan keuntungan dengan pendekatan ini adalah pira paru baya dan wanita yang tertekan dalam hidupnya.
  3. Di luar harapan Freud, pndekatan ini telah diklaim secara eksklusif oleh para psikiater.
  4. Pendekatan ini berdasarkan pada banyak konsep yang tidak mudah dipahami atau dikomunikasikan.
  5. Pendekatan ini membutuhkan ketekunan.
  6. Pendekatan ini tidak begitu cocok dengan kebutuhan kebanyakan individu yang mencari konseling profesional.

Beberapa kelebihan konseling psikoanalisis adalah sebagai berikut:
  1. Pendekatan ini menekankan pada pentingnya seksualitas dan alam tidak sadar dalam tingkah laku manusia.
  2. Pendekatan ini memberikan sumbangan pada penelitian-penelitian empiris; bersifat heuristik.
  3. Pendekatan ini menyediakan dasar teoritis yang mendukung sejumlah instrumen diagnostik.
  4. Pendekatan ini tampaknya efektif bagi mereka yang menderita berbagai macam gangguan, termasuk histeria.
  5. Pendekatan ini menekankan pentingnya tahap perkembangan pertumbuhan.

I.              Sumber Rujukan

Komalasari, dkk., 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks
Gladding, S.T. 2012. Konseling: Profesi yang Menyeluruh. Jakarta: Indeks
Palmer, S. 2011. Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Antwone Fisher Psikoanalisa Teknik Freud


ANTWONE FISHER

  Antwone Fisher dikisahkan sebagai seorang anggota angkatan laut AS yang entimental, mudah marah dan meledak-ledak. Antwone Fisher mengalami masa kecil menyakitkan, yang terus menghantuinya sampai ia dewasa.

  Sebetulnya Antwone Fisher kelasi yang baik. Namun, amarahnya gampang sekali tersulut. Olok-olok kecil saja sudah bisa membuatnya meledak. Ia gampang tersinggung dan suka melayangkan bogem mentahnya, sehingga dikirim ke psikiater AL, Dr. Jerome Davenport. Semula ia menolak untuk membuka mulut. Namun Davenport begitu sabar. Ia menunggu, berminggu-minggu, sampai Fisher bersedia mengakui kelemahannya dan menuturkan sejarah pedih masa lalunya.

   Penggalian informasi dari Fisher tidaklan mudah, karena Fisher berkesan menutup masa lalunya. Namun pada akhirnya setelah beberapa kali pertemuan justru mereka bersahabat dan Fisherpun bersedia menceritakan pada psikiater tersebut tentang kehidupan masa kecilnya yang kelam. Ia menceritakan kepada Davenport ditampilkan dalam serangkaian flashback bahwa ayah Fisher tewas ditembak selingkuhannya tepat dua bulan sebelum Fisher dilahirkan oleh ibunya di penjara wanita. Dia sendiri dibesarkan di orang tua asuh yang memperlakukannya dengan sangat kejam. Fisher kecil tumbuh tanpa kasih sayang orang tua dan seringkali mendapatkan kekerasan fisik dari ibu angkatnya yang kejam, Tate. Tak berhenti di situ, pada usia enam tahun Fisher mengalami kejadian traumatik yang disebabkan oleh perlakuan tak senonoh anak perempuan Tate. Sebuah pukulan telak menghantamnya saat sahabat karibnya tewas dalam upaya perampokan. Fisher merasa segala sesuatu yang baik direnggut dari hidupnya.

Davenport menyadari, Fisher perlu pertolongan lebih jauh agar dapat pulih dari kerusakan psikologis dan emosional itu. Dan ternyata, dalam upayanya merengkuh pemuda yang terluka itu, sang konselor menemukan kebenaran tentang dirinya sendiri. Ia diperhadapkan pada kelemahannya sendiri, yang mengakibatkan kerawanan dalam pernikahannya. Tampaknya ia sendiri perlu dipulihkan. Fisher pelan-pelan memercayai konselor yang baik itu. Di luar itu, ia secara gamang jatuh cinta pada rekan sesama pelaut, Cheryl. Gadis ini bukan hanya cantik, namun juga sungguh-sungguh peduli pada Fisher.
            Ketika pria itu mengakui pergumulannya, Cheryl dengan tulus mendampingi dan mendukungnya. Dengan dukungan kedua orang inilah, tersulut keberanian Antwone Fisher untuk menghadapi “hantu” masa lalunya mengantarkan kita ke klimaks yang menggetarkan. Agar Fisher bisa berdamai dengan dirinya sendiri, Davenport menyarankan pemuda itu mencari anggota keluarganya. Awalnya, Fisher menolak. Namun, akhirnya, setelah ditemani kekasih barunya, ia bersedia.


       TERAPI YANG DIGUNAKAN

Kejadian yang dialami Antwone Fisher oleh disebabkan pengalaman masa lalu yang tanpa disadari individu telah membuat individu menjadi trauma dan cemas berlebihan. Dengan kata lain, ada konflik – konflik tak sadar yang tetap tinggal tersembunyi dan merembes ke syaraf kesadaran.
Film ini menggunakan proses terapi psikoanalisa mulai dari tahap awal perkenalan sampai intervensi dan penutup. Bahkan ditunjukkan juga kemungkinan adanya Counter Transferens yaitu situasi dimana klien menjadi tergantung dengan psikolog/ psikiater seperti pada saat Fisher marah pada psikiater karena sesi terapi harus diakhiri sementara Fisher sudah terlanjur berharap banyak atas perhatian psikiater.
Denzel Washington sebagai seorang psikiater menggunakan pendekatan Psikoanalisa dalam menangani permasalahan Fisher. Fisher diajak untuk mengeluarkan kembali memori tentang masa lalunya lalu diarahkan untuk pelan-pelan menahan emosi serta mengatur perilakunya.


       TEKNIK- TEKNIK TERAPI

v  Asosiasi bebas

            Teknik pokok dalam terapi psikoanalisa adalah asosiasi bebas. Konselor memerintahkan klien untuk menjernihkan pikiranya adari pemikiran sehari-hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul dalam kesadaranya. Yang pokok, adalah klien mengemukakan segala sesuatu melalui perasaan atau pemikiran dengan melaporkan secepatnya tanpa sensor.

Metode ini adalah metoda pengungkapan pangalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik dimasa lalu.

v  Analisis dan interpretasi transferensi

Transferensi (pemin dahan).transferensi muncul dengan sendirinya dalam proses terapeutik pada saat dimana kegiatan-kegiatan klien masa lalu yang tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia mengubah masa kini dan mereaksi kepada analisis sebagai yang dia lakukan kepada ibunya atau ayahnya ataupun siapapun.

Sabtu, 22 Desember 2012

Jalan menuju Puncak

Tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Semua harus diperjuangkan. Ongkos setiap perjuangan tergantung kondisi yang anda inginkan. Untuk mencapai puncak gunung harus melalui empat kondisi jalan. Apabila anda tidak bisa melalui empat kondisi jalan ini maka jangan harap anda akan sampai dipuncak gunung dengan kedamaian dan rasa syukur.



Jika dikatakan perjuangan, bukan hal atau sesuatu yang ”tidak memiliki tujuan”..., namun seuah PERJUANGAN pasti memiliki TUJUAN yang jelas. Sehingga dengan sadar dalam pencapaian tujuannya tersebut. Hal ini akan mendatangkan KEKUATAN dalam perjuangan. Seperti yang pernah dilakukan oleh para pendahulu-pendahulu kita. Seperti pembangunan BOROBUDUR yang memakan waktu hampir 1 abad atau sebanyak kurang lebih berganti 20 raja dalam kurun waktu tersebut. Bukan KEAJAIBAN namun sebuah KOMITMEN dalam mewujudkan candi tersebut.

Walaupun kata KOMITMEN yang saat ini digunakan adalah merupakan bahasa serapan dari bahasa asing ”to commit” bukan berarti bangsa Indonesia tidak memiliki budaya tersebut. Kenapa saya memiliki pendapat tersebut, salah satu produk budaya adalah bahasa, dan yang terkecil adalah kata. Jika komitmen di dapatkan dari bahasa serapan. Tandanya kita, bangsa Indonesia, tidak memiliki budaya (komitmen) tersebut. Namun saya melihat lain, bangsa Indonesia memiliki itu, entah kata apa yang tepat dari bahasa Indonesia untuk dapat menggambarkan kata komitmen tersebut. Fenomena lain terkait keteguhan hati dalam perjuangan dapat dilihat dari sang patih Gajah Mada, yang bertekad untuk menyatukan nusantara. Kuncinya adalah Tujuan yang jelas sehingga dapat menentukan arah dan pilihan yang harus diambil selama perjuangan yang akan dilakukan.

Pertama ”Jalan Mendatar”. Sebelum mendaki maka akan melewati jalan mendatar di tengah hutan belantara. Bisa saja memilih jalan yang sudah dilalui orang lain dimana semua sudah terdapat jejaknya dan tentu saja aman. Atau dapat memilih jalur lain namun harus bersiap menerima resiko kehilangan arah atau dimangsa binatang buas. Di dalam hutan banyak sekali jebakan yang bisa membuat jatuh dan bahkan tidak dapat sampai ke tujuan kita. Semua tergantung PILIHAN!. Sehingga dibutuhkan pengetahuan dan keyakinan dalam berjalan dalam pilihan. Yang pasti sukses adalah kualitas diri. Apakah ingin hidup sebagai follower atau sebagai inovator dan creator. Kisah menarik yang saya alami terkait dengan sebuah pilihan, yaitu absensi pada sahabat mahasiswa saya. Secara sadar dirinya telah tidak hadir kuliah lebih dari jumlah yang telah ditentukan. Ia mengetahui benar konsekuensi akan tidak bolehnya dirinya untuk mengikuti ujian pada saat itu karena absensinya melebihi batas yang telah ditentukan.

Namun saya terharu, ia tetap hadir untuk mendukung teman-temannya dalam ujian. Karena ujiannya merupakan hasil kerja kelompok dan dirinya merasa bertanggungjawab untuk dapat menghantarkan kelompoknya mendapat nilai yang baik. Itu sebuah PILIHAN, hal itu ia sadari dengan konsekuensi tetap tidak lulus karena absensi namun ia tahu bahwa perjuangan sesungguhnya adalah bukan masalah lulus atau tidak lulus namun BELAJAR yang ia tuju.

Kedua “ Jalan Mendaki “. Untuk mencapai puncak maka harus menguatkan otot dan bahu untuk mendaki. Jika berlari akan menguras energi sendiri. Sementara jarak menuju puncak tidak diketahui dengan pasti. Jika bicara energi akan sangat erat hubungannya dengan emosi. Artinya harus mempunyai emosi yang terkendali dalam mencapai dan dapat melihat puncak gunung. Dalam mendakipun harus rela untuk berhenti barang sejenak bila memang lelah. Bila kehilangan arah maka cobalah berhenti barang sejenak. Pandanglah langkah yang sudah terlewati, tataplah puncak gunung itu. Kemudian pikirkan dan analisa langkah yang telah dilalui. Banyak gunung semua memiliki tinggi yang berbeda. Sesuaikan kadar kemampuan diri dan tentukan mana puncak yang akan diraih terlebih dahulu maka itu adalah BIJAKSANA. Cerita kaum sufi menyebutkan tentang seekor bakicot merayap mendaki pohon murbay yang sangat tinggi. Sang burung mentertawakan Bakicot sambil berteriak “ Hai Bakicot apa yang engkau lakukan. Pohon murbay ini tidak sedang tidak berbuah dan berdaun karena musim gugur. Dan lagi sampai kapan anda akan tiba dipuncak pohon ini. “ Bakicot dengan tenang terus merayap pohon itu dan menjawab “ Saya tahu pohon ini sedang tidak berbuah dan berdaun tapi setidaknya ketika musim semi datang , saya sudah sampai dipuncak pohon untuk memakan daun murbai.” Untuk mencapai puncak tidak hanya dibutuhkan kekuatan fisik dan fasilitas yang tersedia tapi lebih dari pada itu adalah kemampuan melihat dari tabir kegegelapan. Melihat dengan kekuatan hati. Itu semua bersumber dari satu sikap “ SABAR dan ikhlas. “ itu yang disebut dengan MENTALITAS. Jika ditanyakan pada banyak orang, apakah jika ada rencana membuat BOROBUDUR 2 yang memiliki bentuk desain yang serupa apakah hal ini mungkin terjadi dengan kondisi teknologi yang ada pada saat ini ? pasti akan menimbulkan jawaban ”ya” atau ”tidak”. Saya memiliki pandangan bisa ”ya” dan bisa ”tidak”. Dikatakan ”ya”, teknologi saat ini disertai biaya yang cukup sangat memungkinkan membuat BOROBUDUR 2, namun dikatakan ”tidak” terkait mentalitas dalam mewujudkan sebuah bangunan yang memiliki kualitas seperti yang aslinya. Sehingga dalam bagian kedua ini pada jalan mendaki, selain fisik dan fasilitas, MENTALITAS mengambil peran utama dalam keberhasilannya mencapai puncak.



Ketiga “ Jalan melereng “. Ketika mendaki , maka kondisi yang tidak bisa dihindari adalah jalan melereng ( jalan melingkar) mengitari tebing gunung. Disekitar terdapat jurang yang sangat dalam. Semakin tinggi puncak gunung yang hendak dicapai maka semakin dalam jurang yang ada disamping jalan yang dilalui. Di lereng gunung ini , selalu jalannya lincin. Tergelincir adalah resikonya . jalan mencapai puncak memang mengharuskan menempuh jalan berliku. Memang sangat menyakitkan bila harus terjatuh namun harus bangkit untuk mencoba lagi dan mencoba lagi. Yang pasti kesuksesan itu adalah reward terindah dari perjuangan tanpa lelah. Sikap hati - hati dan bijaksana mengendalikan emosi meredam ego adalah sangat penting bila anda ingin selamat sampai dipuncak. Karena masing-masing diri kita mengetahui apa yang menjadi TUJUAN yang ingin dicapai. Bisa dibayangkan jika menjadi pribadi yang tanpa tujuan dalam kehidupannya. Selalu dalam kebingungan dan keraguan dalam setiap keputusannya. Hal ini jugalah yang akan menentukan Adversity Quotient (AQ) diri kita. Apakah kita seorang yang ”Quitter”, melihat susahnya perjalanan yang akan ditempuh,mungkin baru ia dengar dari rekannya saja, hati sudah kecut dan akan mengurungkan niat untuk melakukan perjalanan. Sedangkan yang berikutnya adalah tipe ”Campper”, yaitu tipe pribadi yang baru sedikit dapat kesulitan memutuskan untuk berhenti, karena tidak tahu apa yang akan dituju. Dan terakhir adalah tipe ”Climbber” yaitu tipe pribadi yang digambarkan sebagai pribadi yang fokus terhadap tujuan sehingga mengarahkan emosi, energi, potensi diri dalam mencapai tujuan. Apapun resikonya, dapat melihat kebaikan apa yang menjadi tujuannya tersebut.

Keempat “ Jalan menurun “ Ketika telah berhasil sampai di puncak maka tidak ada yang dapat dirasakan kecuali puas. Bahwa perjalanan ini telah menjadi bagian dari sejumlah orang yang berhasil mencapai puncak dengan melewati berbagai tantangan. Banyak pula yang gagal mencapai puncak. Berhenti sebatas lereng gunung. Tetapi lambat atau cepat harus ikhlas untuk turun. Jalan menurunpun tidaklah mudah. Ia membutuhkan kekuatan emosi dan kesabaran mengitari lereng gunung dan menghadapi dalamnya jurang kehidupan. Rasa ”PUAS” ini merupakan hal yang harus diwaspadai menjadikan diri menjadi lengah dan mudah tergelincir pada saat di atas ataupun ketika perjalanan turun harus ia lakukan.

Banyak orang hanya melihat dan berhasrat meraih keindahan puncak gunung tapi tidak siap melewati pendakian dan menyusuri lereng gunung. Yang mereka lakukan adalah melakukan jalan pintas. Menyogok untuk menjadi pemenang. Menjilat agar mendapat jabatan. Berjudi agar cepat kaya. Merampok , korupsi agar cepat sukses. Inilah gambaran pribadi-pribadi yang memaknai hidup sebagai ”BERADAPTASI” bukan sebagai seorang yang ”CREATOR”. Bila mereka telah dipuncak dengan cara ini maka tentupula akan tidak siap bila harus turun. Karena tidak pernah tahu cara untuk turun. Mereka tidak pernah dapat menarik hikmah kemanusiaan dari keberadaannya di puncak karena mereka melangkah di uar hukum alam. Naik cepat dan turunpun cepat dan biasanya bukan turun secara alami tapi terjun bebas!....

Kehidupan yang sedang kita lalui ini adalah tidak lebih sama. Semua kita melalui proses mencapai puncak walau puncaknya berbeda - beda kadar ketinggiannya pada masing masing orang. Tergantung dengan tujuan kehidupan masing-masing orang dan juga seberapa kaya dalam memaknai kehidupan yang dilaluinya. Semakin tinggi puncak yang hendak dicapai maka semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi. Jalan mendatar , mendaki , melereng dan akhirnya harus turun dari puncak. Hukum alam tidak dapat dihindari. Penolakan atau mencoba memanipulasi hukum alam akan menimbulkan pradox , kehancuran bagi diri kita sendiri juga bagi kehidupan umat manusia di planet bumi ini. Kakek saya mengingatkan “alam terbentang menjadi guru”. Makna dari ungkapan ini adalah raihlah keberhasilan dengan banyak membaca , melihat dan mendengar karena beban untuk mu sudah menanti  “menjadi rahmat bagi alam semesta” – dengan PERBUATAN !



thanks to Seta Wicaksana ( Dosen sekaligus motivator ane hehehe banyak inspirasi nihhh ). ini merupakan salah satu hasil karya beliau yang membuat saya melek tentang sebuah perjuangan pengorbanan dan 1 hal yg terngiang di benak pikiran saya ialah Semakin tinggi puncak yang hendak dicapai maka semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi. Jalan mendatar , mendaki , melereng dan akhirnya harus turun dari puncak. Hukum alam tidak dapat dihindari.

Selasa, 18 Desember 2012

Belajar Memaknai Belajar !!!

sebelumnnya saya ingin berterima kasih dengan dosen saya Om Seta Wicaksana psikolog sekaligus Motivator yg suangat suepperrrr hehehe 

ini tulissan diciptakan oleh Om Seta tersebut dan saya hanya ingin menyebarluaskan ke kalian para penggila dunia maya silahkna di baca dan di nikmatin :


Sebuah catatan kecil dari sebuah perjalanan...

Pada suatu ketika ujian hampir tiba, semua siswa SD terlihat tetap bersemangat untuk bermain dengan rekan-rekannya yang lain. Bahkan kesibukan ditambah dengan datangnya musim pancaroba yang dikenal dengan musim banyak angin, jadilah bermain layangan di sore harinya. Menarik dan menyenangkan !!  Jadi bagaimana kisah ujian tadi ?! terlupakan…dan TERLALU !!

Kebetulan dan alhamdulillah-nya juga…, orang tua saya khususnya ibu telah menanti dengan berbagai buku bidang studi, ada IPA, Matematika, Bahasa Indonesia, Agama, IPS, dan lain sebagainya. Walah !! teriak saya dalam hati…, badan lelah seharian bermain… dan mata pun terasa berat untuk memulai belajar. Saya merasa pada saat itu ‘belajar’ merupaka saat yang sangat mencekam. Apalagi jika saya tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas dari ibu, saya akan berkurang jam tidur saya saat itu. Aduuhhh… kenapa mesti belajar sih??!! Padahal di sekolah nggak gitu-gitu banget dech !! Cape dech !!

Pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan dari Ibu, waktu seperti bergerak sangat lama…, hal ini yang dirasakan setiap menghadapi ujian yang akan datang sebentar lagi. Pertanyaan nakal kembali hadir dalam benak saya, kenapa pakai ujian sih ?? hehehe….pakai tertawa lagi..(sungguh TERLALU!!!)

Belajar menurut saya merupakan sebuah proses yang terjadi selama kita hidup. Ilustrasi di atas merupakan hanya sebagian kecil dalam kita belajar. Sensasi belajar ada dua yang dapat dirasakan, yaitu ‘mencekam’ dan ‘menyenangkan’.  Kenapa ? kita akan coba melihat satu-satu dari kedua sensasi ini.

‘Mencekam’ kata ini akan dapat dirasakan jika secara mental diri merasa belajar bukanlah sebuah prioritas sehingga menimbulkan keengganan hingga penolakkan. Kenapa belajar bukan merupakan prioritas?? Karena tidak semua orang memandang bahwa belajar adalah identik dengan sekolah, ulangan umum ujian, pengawas, lulus dan tidak lulus, dan sebagainya. Sejak awalnya ketika diperkenalkan dengan institusi yang katanya sangat peduli akan perkembangan pendidikan justru saya semakin kehilangan makna dan filosofi dari sebuah kata belajar. Kenapa hari-hari saya pada saat belajar bukan merupakan hari yang menyenangkan seperti pada saat kita bermain dengan teman atau hobi kita. Apakah kita tersesat pada hutan belajar ??

Sebelum sampai kata ‘menyenangkan’ saya kembali bercerita mengenai sebelum berkenalan dengan institusi pendidikan yang ada. Saya begitu hapal dengan tokoh-tokoh yang mempengaruhi dunia ini. Saya begitu senang untuk membuat tulisan kecil setelah saya membaca. Saya begitu antusias dalam membaca buku-buku sejarah dari novel hingga otobiografi.  Saya merasakan kehausan yang tak terkira dan sangat berbeda, waktu begitu sangat cepatnya…Asyikkk inilah yang dikatakan saat yang menyenangkan. Percaya atau tidak sensasi ini telah lama menghilang dan terkubur dalam- dalam.
Bisa dibayangkan bahwa ketika diri sudah kehilangan semangat untuk belajar, mau jadi apa?? Apakah dunia ini berhenti ketika kita berhenti belajar ?? jawabnya TIDAK !!

TIDAK !! BELAJAR ITU MENYENANGKAN…, saya seperti kembali pada masa kecil saya yang menyenangkan. Tapi untuk membuat pernyataan tersebut bukanlah hal yang mudah. Karena musuh terberat adalah DIRI kita sendiri !! terkungkung dalam lingkungan dan institusi yang justru menghilangkan makna belajar membuat diri menjadi kehilangan arah, mentalitas lemah, follower, kreativitas mandeg, jiwa kerdil, otak menciut, dan tidak menjadi apa-apa dan bahkan menjadi potensi pembuat onar sejati. Kenapa ?? karena tidak dapat berpikir dan merasa semuanya terbatas terjadi ‘rebutan’ yang pastinya dengan segala cara dan upaya…Waduh Kacau !!

Memutus rantai bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan energi yang luar biasa. Namun bukanlah hal yang sulit juga untuk dilakukan selama bisa jujur pada diri sendiri. Hanya sebuah pertanyaan sederhana yang harus anda dan kita semua jawab, tidak hanya dijawab dengan kata-kata, namun juga dari hati, ‘Apakah belajar itu penting bagi kita?’ dan hilangkan semua yang namanya kata "tapi ini, tapi itu dan tapi-tapi yang lain. " Itu adalah kehendak yang fitrah. Kenapa fitrah…yaitu kita kembali sebagai sejatinya seorang manusia… diberi akal dan hati untuk digunakan dengan baik. Kita hanya mengembalikan kebiasaan yang membawa kita jauh dari kefitrahan manusia menjadi kembali kejalurnya. Dunia ini diciptakan untuk manusia-manusia yang mau menggunakan pikirannya untuk membaca kekuasaan sang pencipta yang luar biasa agar dapat mensyukuri nikmat yang telah diberikannya.

Belajar bukanlah melulu untuk nilai, ijazah, status sosial di masyarakat, namun justru kesungguhan seorang individu dalam belajar adalah semampu apakah ia dapat bersyukur. Setelah saya melakukan perenungan diri, ternyata masih banyak hal dalam diri untuk terus dapat belajar di dunia yang luas ini. Percaya atau tidak…ilmu yang saat ini dimiliki seperti sebuah ujung jari tangan yang dicelupkan dalam lautan yang sangat luas dan kemudian diangkat hingga tidak terkena air, dan air yang menempel itu adalah ilmu yang dimiliki. Jujur..,sikap cepat puas yang membuat jari kita terangkat dari celupan air. Pada hal kita harus tetap menyelami kehidupan kita hingga waktu yang diberikan kepada kita habis dan berakhir. Maknailah belajar dan jadilah orang-orang yang bersyukur serta berbuatlah ke’baik’an di muka bumi ini, bagi diri, orang lain dan lingkungan.

Terima kasih yang tak terkira kepada Ibu dan Bapak, guru/dosen, ustadz, teman-teman, buku dan internet serta alam yang luar biasa yang membuat belajar menjadi indah dan menyenangkan…, untuk 1ndONEsia lebih baik, Nyalakan api semangat belajar mu SOBAT !! (wicaksana, 2012)

semoga catatan kecil ini bisa berkesan besar untuk kalian semua, saya hanya ingin berkata bahwa setiap yang kita jalani adalah sebuah pembelajaran buat kita tetap menjadi diri sendiri ya brooo