Minggu, 12 Mei 2013

Konseling Pendekatan Behavior Part 1

Konseling behavioral merupakan bentuk adaptasi dari aliran psikologi behavioristik, yang menekankan perhatiannya pada perilaku yang tampak. Perkembangan konseling behavioral bertolak dari perkembanngan aliran behavioristik yang menolak pandangan strukturalisme dan fungsionalisme tentang kesadaran, yang berpendapat bahwa mental, pikiran dan perasaan hendaknya ditemukan terlebih dahulu bila perilaku manusia ingin difahami, pandangan inilah yang melandasi munculnya teori introspeksi.

Asumsi dasar dari aliran behaviorisme adalah bahwa;
(1) tingkah laku manusia mengikuti hukum tertentu, bahwa setiap peristiwa berhubungan secara teratur dengan peristiwa lainnya,
(2) tingkah laku manusia dapat diprediksi, dan
(3) tingkah laku manusia dapat dikontrol. Dari asumsi dasar behavioristik inilah lahir pendekatan konseling yang disebut dengan konseling behavioral, yang menekankan aspek modifikasi perilaku.

Dalam konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu untuk mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya. Hal yang paling mendasar dalam konseling behavioral adalah penggunaan konsep-konsep behaviorisme dalam pelaksanaan konseling, seperti konsep reinforcement, yang merupakan bentuk adaptasi dari teori pengkondisian klasik Pavlov, dan pengkondisiaan operan dari Skinner.


Aliran behavioristik menolak teori introspeksi dari aliran strukturalisme dengan sebuah keyakinan bahwa teori introspeksi tidak dapat menghasilkan data yang objektif, karena kesadaran merupakan sesuatu yang Dubios, yaitu sesuatu yang tidak dapat diobservasi secara langsung, secara nyata. Bagi aliran behavioristik yang menjadi fokus perhatian utama adalah perilaku yang nampak dari seorang individu. Disamping itu, aliran behavioristik muncul sebagai gagasan baru sebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap psikoanalisis.

Hakekat manusia dalam konseling behaviorial

Hakikat manusia menurut pandekatan konseling behavioral adalah pasif dan mekanistik, manusia dianggap sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan diprogram sesuai dengan keinginan lingkungan yang membentuknya. Manusia merespon lingkungan dengan kontrol terbatas, hidup dalam alam deterministik dan memiliki sedikit peran aktif dalam memilih martabatnya. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya, dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.

Dalam pandangan behavioristik, kepribadian manusia merupakan perilaku yang terbentuk berdasarkan hasil pengalaman yang diperoleh dari interaksi seseorang dengan lingkungannya. Kepribadian merupakan pengalaman seseorang akibat proses belajar. Aliran behavioristik memiliki asumsi-asumsi dasar terhadap perilaku manusia sebagai berikut; (1) manusia memiliki potensi untuk segala jenis perilaku, (2) manusia mampu mengkonsepsikan dan mengendalikan perilakunya, (3) manusia mampu mendapatkan perilaku baru, (4) manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain sebagaimana perilakunya juga dipengaruhi oleh orang lain.

Perilaku bermasalah

Menurut pandangan behavioral, perilaku bermasalah adalah kebiasaan negatif atau perilaku yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Perilaku bermasalah ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah adanya salah suai dalam proses interaksi dengan lingkungan, adanya pembelajaran yang salah dalam rumah tangga, tempat bermain, lingkungan sekolah, dan lingkungan lainnya. Perilaku dikatakan salah suai jika perilaku tersebut tidak membawa kepuasan bagi individu, atau membawa individu kepada konflik dengan lingkungannya.

Terbentuknya perilaku bermasalah dikarenakan adanya proses pembelajaran. Perilaku bermasalah itu akan bertahan atau hilang tergantung pada peran lingkungan dalam bentuk konsekuensi-konsekuensi yang menyertai perilaku tersebut. Misalkan perilaku destruktif dalam kelas dapat bertahan lama karena adanya reinforcement berupa dukungan dan pujian dari teman-temannya sehingga memunculkan perasaan puas. Punishment menjadi tidak efektif karena tidak mampu melawan kekuatan reinforcement. Perubahan perilaku yang diharapkan dapat terjadi jika pemberian ganjaran dan hukuman diberikan secara tepat.

Perilaku bermasalah dapat juga terbentuk sebagai proses mencontoh (modeling), baik secara langsung atau imitasi, maupun pengamatan tidak langsung atau vicarious. Misalnya anak yang memiliki perilaku agresif, bisa jadi karena anak sering dipukul, atau melihat orang tuanya bertengkar, bahkan lewat media televisi anak dapat mencontoh adegan-adegan yang bersifat kekerasan, yang biasa terdapat dalam sinetron atau film.

Proses dan tujuan konseling behavioral

Dalam pendekatan behavioral, hal yang penting untuk mengawali konseling adalah mengembangkan kehangatan, empati, dan hubungan suportif. Pendekatan behavior di dalam proses konseling membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara faktor bawaan dengan lingkungan. Perilaku yang dapat diamati merupakan suatu kepedulian dari konselor sebagai kriteria pengukuran keberhasilan konseling. Dalam konsep behavior, perilaku manusia merupakan hasil belajar yang dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasikan kondisi-kondisi belajar. Proses konseling merupakan suatu proses atau pengalaman belajar untuk membentuk konseli mengubah perilakunya sehingga dapat memecahkan masalahnya.

Dalam konsep behaviorisme modern, manusia tidak lagi diasumsikan secara deterministik ( manusia ditentukan oleh faktor bawaan atau Gen ), tetapi merupakan hasil pengkondisian sosio-kultural. Oleh karena itu, konseli diberikan peluang secara bebas dan menambah keterampilan konseli untuk memiliki lebih banyak opsi dalam melakukan respon. Konseli terlibat dan berperan aktif dalam menentukan tindakan secara spesifik, dan menekankan upaya membimbing konseli untuk terampil dalam memanajemen diri. Target perubahan menekankan pada perilaku nyata (over behavior) dan perilaku terselubung (covert behavior), identifikasi problem, dan perubahan yang terjadi.

Dalam terapi behavioral, tujuan konseling untuk membantu konseli membuat pilihan dan situasi baru untuk proses belajar. Konseli dengan bantuan konselor menetapkan tujuan secara spesifik untuk proses terapi. Konseli berperan aktif dalam menetapkan treatment.

Proses konseling yang dibangun dengan pendekatan behavioristik terdiri dari empat hal, yaitu;

(1) tujuan terapis diarahkan pada memformulasikan tujuan secara spesifik, jelas, konkrit, dimengerti, dan diterima oleh konseli maupun konselor,
(2) peran dan fungsi konselor adalah mengembangkan keterampilan menyimpulkan, merefleksi, mengklarifikasi, dan membuka-menutup pertanyaan,
(3) kesadaran konseli dalam mengikuti terapi dan partisipasi konselor ketika proses terapi berlangsung akan memberikan pengalaman positif pada konseli, dan
(4) memberikan kesempatan kepada konseli karena kerja sama dan harapan positif dari konseli akan membuat hubungan terapis lebih efektif.

Peran konselor dalam pendekatan konseling behavioral adalah aktif dan direktif, dan berfungsi sebagai konsultan dan problem solvers. Konselor behavioral berperan sebagai guru, pengarah, dan ahli yang membantu konseli dalam mendiagnosis dan melakukan teknik-teknik modifikasi perilaku yang sesuai dengan masalah dan tujuan yang diharapkan, sehingga mengarah pada tingkah laku yang baru dan adjustive. Konselor harus dapat menjadi model bagi konseli, karena salah satu hal mendasar dalam pendekatan ini adalah bagaimana konseli belajar perilaku baru dengan imitasi.

THE SPECIAL ONE MOURINHO


Nama Lengkap: José Mário dos Santos Mourinho Félix
Nama Populer: Jose Mourinho

Tanggal Lahir 26 Januari 1963
Tempat lahir: Setúbal, Portugal
Tinggi: 1.75 m

Pekerjaan: Pelatih Sepak Bola






Kehidupan Pribadi Jose Mourinho

Tahun 1989, Dia menikah dengan Matilde, yang telah dikenalnya sejak masa kanak-kanak. Mereka memiliki dua orang anak: Matilde and José Jr.


Ia dikenal memiliki kepribadian yang kuat, dan komentar-komentar yang pedas pada saat konferensi pers, Mourinho terikat perjanjian iklan di Eropa dengan Samsung, American Express dan perusahaan-perusahaan lain. Biografi resminya menjadi 'best-seller' di Portugal.


José Mourinho juga berperan dalam banyak kegiatan sosial di dunia, seperti proyek remaja untuk anak-anak Israel dan Palestina dan juga program sejenis di negaranya.  Pada 16 Mei 2007, Mourinho pernah ditahan dengan tuduhan melawan petugas polisi saat petugas polisi akan mengkarantina anjingnya.


Pada 23 Maret 2009 Jose Mourinho meraih gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Teknik di Lisbon, Portugal.


Mourinho dirumorkan bercerai dengan istrinya, Matiilde "Tami" Mourinho yang telah memberikannya dua anak, Matilde dan Jose Jr dari bahtera rumah tangga yang sudah didayuh selama 20 tahun. Sejumlah media mewartakan bila mantan pelatih Chelsea itu sering berbelanja di Milan sendirian.

Jose Mourinho lahir pada tanggal 26 Januari 1963 di Setubal, Portugal. Beliau merupakan seorang pelatih sepak bola asal Negara Portugal. Kariernya menjadi pelatih dimulai pada tahun 2000 saat melatih S.L. Benfica (2000-2001), kemudian melatih  F.C. Porto di tahun 2002-2004, Lalu pindah ke Chelsea tahun 2004 sampai 2007, dan terakhir pada tanggal 2 Juni 2008,  Beliau diumumkan sebagai pelatih Inter Milan hingga 2010 ini dan berhasil menyumbangkan Inter Meraih Trofi Liga Champions Musim 2009/2010.


Mourinho merupakan lulusan dari Universitas di Lisboa dan meraih gelar sarjana dalam bidang ilmu olah raga dengan tesis mengenai metodologi persepak bolaan. Mourinho memulai profesinya sebagai pengajar, lalu melatih tim junior dan menjadi penterjemah untuk Bobby Robson pada Sporting Lisboa, kemudian menjadi asisten pelatih ketika Beliau mengikuti Robson pindah ke FC Porto dan Barcelona. Di Barcelona, ia menjadi asisten Louis van Gaal, kemudian di tahun 2000 ia kembali ke Lisboa dan menjadi pelatih Benfica.

Mourinho terkenal dengan komentarnya yang sangat tajam,pedas dan kontroversial. Saat tiba di Chelsea pada 2004, ia menyebut dirinya sebagai "sang istimewa" (The Special One). Ditambah dengan penampilannya yang bergaya "bintang film", ia kerap menjadi sasaran di halaman utama berita dan gosip. Profilnya menjadi salah satu penghuni patung lilin di Museum Madame Tussaud di London.

Jose Mourinho melewati musim pertamanya dengan Inter Milan di Italia pada musim 2008/2009 dab sukses  merebut gelar ke-17 Liga Italia Serie-A.


Di tahun 2010, tepatnya tanggal 23 Mei, Mourinho berhasil mengantar Inter Milan Meraih Gelar Liga Champions, dan ini membuat sejarah baru bagi Inter, yang pada 45 tahun yang Lalu, terakhir mendapatkan gelar Champions ini.


Gelar yang Pernah Di Raih Mourinho Selama Menjadi Pelatih


Dengan F.C. Porto:


Portuguese Liga (2): 2002/03, 2003/04

SuperCup Cândido de Oliveira : 2003
Piala Portugal : 2002/03
Piala UEFA : 2002/03
Liga Champions UEFA : 2003/04

Dengan Chelsea F.C.:


Premier League (2): 2004/05; 2005/06

Piala FA (1): 2006/07
English League Cup: 2004/05; 2005/06
Community Shield: 2005

Dengan Inter Milan:


Piala Super Italia : 2008

Liga Italia : 2008/09, 2009/10
Coppa Italia : 2009/2010
Liga Champions : 2009/2010
 
 
Karier Kepelatihannya:

2000 - Benfica
2001–2002 – U.D. Leiria
2002–2004 – F.C. Porto
2004–2007 – Chelsea
2008–2010 - FC Internazionale Milano2010-Sampai Sekarang : Real Madrid



danke Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Jos%C3%A9_Mourinho

Heil Hitler Fuehrer !!!!

Kekalahan Jerman membikinnya terpukul dan geram. Di tahun 1919 tatkala umurnya menginjak tiga puluh tahun, dia bergabung dengan partai kecil berhaluan kanan di Munich, dan segera partai ini mengubah nama menjadi Partai Buruh Nasionalis Jerman (diringkas Nazi). Dalam tempo dua tahun dia menanjak jadi pemimpin yang tanpa saingan yang dalam julukan Jerman disebut “Fuehrer.”

Adolf Hitler lahir tahun 1889 di Braunau, Austria. Sebagai remaja dia merupakan seorang seniman gagal yang kapiran dan kadang-kadang dalam usia mudanya dia menjadi seorang nasionalis Jerman yang fanatik. Di masa Perang Dunia ke-I, dia masuk Angkatan Bersenjata Jerman, terluka dan peroleh dua medali untuk keberaniannya.




 Di bawah kepemimpinan Hitler, partai Nazi dengan kecepatan luar biasa menjadi suatu kekuatan dan di bulan Nopember 1923 percobaan kupnya gagal. Kup itu terkenal dengan sebutan “The Munich Beer Hall Putsch.” Hitler ditangkap, dituduh pengkhianat, dan terbukti bersalah. Tetapi, dia dikeluarkan dari penjara sesudah mendekam di sana kurang dari setahun.

Di tahun 1928 partai Nazi masih merupakan partai kecil. Tetapi, depressi besar-besaran membikin rakyat tidak puas dengan partai-partai politik yang besar dan sudah mapan. Dalam keadaan seperti ini partai Nazi menjadi semakin kuat, dan di bulan Januari 1933, tatkala umurnya empat puluh empat tahun, Hitler menjadi Kanselir Jerman.

Dengan jabatan itu, Hitler dengan cepat dan cekatan membentuk kediktatoran dengan menggunakan aparat pemerintah melabrak semua golongan oposisi. Perlu dicamkan, proses ini bukanlah lewat erosi kebebasan sipil dan hak-hak pertahankan diri terhadap tuduhan-tuduhan kriminal, tetapi digarap dengan sabetan kilat dan sering sekali partai Nazi tidak ambil pusing dengan prosedur pengajuan di pengadilan samasekali. Banyak lawan-lawan politik digebuki, bahkan dibunuh langsung di tempat. Meski begitu, sebelum pecah Perang Dunia ke-2, Hitler meraih dukungan sebagian terbesar penduduk Jerman karena dia berhasil menekan jumlah pengangguran dan melakukan perbaikan-perbaikan ekonomi.

Hitler kemudian merancang jalan menuju penaklukan-penaklukan yang ujung-ujungnya membawa dunia ke kancah Perang Dunia ke-2. Dia merebut daerah pertamanya praktis tanpa lewat peperangan samasekali. Inggris dan Perancis terkepung oleh pelbagai macam kesulitan ekonomi, karena itu begitu menginginkan perdamaian sehingga mereka tidak ambil pusing tatkala Hitler mengkhianati Persetujuan Versailles dengan cara membangun Angkatan Bersenjata Jerman. Begitu pula mereka tidak ambil peduli tatkala Hitler menduduki dan memperkokoh benteng di Rhineland (1936), dan demikian juga ketika Hitler mencaplok Austria (Maret 1938). Bahkan mereka terima sambil manggut-manggut ketika Hitler mencaplok Sudetenland, benteng pertahanan perbatasan Cekoslowakia. Persetujuan internasional yang dikenal dengan sebutan “Pakta Munich” yang oleh Inggris dan Perancis diharapkan sebagai hasil pembelian “Perdamaian sepanjang masa” dibiarkan terinjak-injak dan mereka bengong ketika Hitler merampas sebagian Cekoslowakia beberapa bulan kemudian karena Cekoslowakia samasekali tak berdaya. Pada tiap tahap, Hitler dengan cerdik menggabung argumen membenarkan tindakannya dengan ancaman bahwa dia akan perang apabila hasratnya dianggap sepi, dan pada tiap tahap negara-negara demokrasi merasa gentar dan mundur melemah.

Tetapi, Inggris dan Perancis berketetapan hati mempertahankan Polandia, sasaran Hitler berikutnya. Pertama Hitler melindungi dirinya dengan jalan penandatangan pakta “Tidak saling menyerang” bulan Agustus 1939 dengan Stalin (hakekatnya perjanjian itu perjanjian agresi karena keduanya bersepakat bagaimana membagi dua Polandia buat kepentingan masing-masing). Sembilan hari kemudian, Jerman menyerang Polandia dan enam belas hari sesudah itu Uni Soviet berbuat serupa. Meskipun Inggris dan Perancis mengumumkan perang terhadap Jerman, Polandia segera dapat ditaklukkan.

Tahun puncak kehebatan Hitler adalah tahun 1940. Bulan April, Angkatan Bersenjatanya melabrak Denmark dan Norwegia. Bulan Mei, dia menerjang Negeri Belanda, Belgia, dan Luxemburg. Bulan Juni, Perancis tekuk lutut. Tetapi pada tahun itu pula Inggris bertahan mati-matian terhadap serangan udara Jerman-terkenal dengan julukan “Battle of Britain” dan Hitler tak pernah sanggup menginjakkan kaki di bumi Inggris.

Pasukan Jerman menaklukkan Yunani dan Yugoslavia di bulan April 1941. Dan di bulan Juni tahun itu pula Hitler merobek-robek “Perjanjian tidak saling menyerang” dengan Uni Soviet dan membuka penyerbuan. Angkatan Bersenjata Jerman dapat menduduki bagian yang amat luas wilayah Rusia tetapi tak mampu melumpuhkannya secara total sebelum musim dingin. Meski bertempur lawan Inggris dan Rusia, tak tanggung-tanggung Hitler memaklumkan perang dengan Amerika Serikat bulan Desember 1941 dan beberapa hari kemudian Jepang melabrak Amerika Serikat, mengobrak-abrik pangkalan Angkatan Lautnya di Pearl Harbor.

Di pertengahan tahun 1942 Jerman sudah menguasai bagian terbesar wilayah Eropa yang tak pernah sanggup dilakukan oleh siapa pun dalam sejarah. Tambahan pula, dia menguasai Afrika Utara. Titik balik peperangan terjadi pada parohan kedua tahun 1942 tatkala Jerman dikalahkan dalam pertempuran rumit di El-Alamein di Mesir dan Stalingrad di Rusia. Sesudah kemunduran ini, nasib baik yang tadinya memayungi tentara Jerman angsur-berangsur secara tetap meninggalkannya. Tetapi, kendati kekalahan Jerman tampaknya tak terelakkan lagi, Hitler menolak menyerah. Bukannya dia semakin takut, malahan meneruskan penggasakan selama lebih dari dua tahun sesudah Stalingrad. Ujung cerita yang pahit terjadi pada musim semi tahun 1945. Hitler bunuh diri di Berlin tanggal 30 April dan tujuh hari sesudah itu Jerman menyerah kalah.

Selama masa kuasa, Hitler terlibat dalam tindakan pembunuhan massal yang tak ada tolok tandingannya dalam sejarah. Dia seorang rasialis yang fanatik, spesial terhadap orang Yahudi yang dilakukannya dengan penuh benci meletup-letup. Secara terbuka dia mengumumkan bunuh tiap orang Yahudi di dunia. Di masa pemerintahannya, Nazi membangun kampkamp pengasingan besar, dilengkapi dengan kamar gas. Di tiap daerah yang menjadi wilayah kekuasaannya, orang-orang tak bersalah, lelaki dan perempuan serta anak-anak digiring dan dijebloskan ke dalam gerbong ternak untuk selanjutnya dicabut nyawanya di kamar-kamar gas. Dalam jangka waktu hanya beberapa tahun saja sekitar 6.000.000 Yahudi dipulangkan ke alam baka.

Yahudi bukan satu-satunya golongan yang jadi korban Hitler. Di masa pemerintahan kediktatorannya, orang-orang Rusia dan Gypsy juga dibabat, seperti juga halnya menimpa orang-orang yang dianggap termasuk ras rendah atau musuh-musuh negara. Jangan sekali-kali dibayangkan pembunuhan ini dilakukan secara spontan, atau dalam keadaan panas dan sengitnya peperangan. Melainkan Hitler membangun kamp mautt itu dengan organisasi yang rapi dan cermat seakan-akan dia merancang sebuah perusahaan bisnis besar. Data-data tersusun, jumlah ditetapkan, dan mayat-mayat secara sistematis dipreteli anggota-anggota badannya yang berharga seperti gigi emas dan cincin kawin. Juga banyak dari jenazah-jenazah itu dimanfaatkan buat pabrik sabun. Begitu telitinya rencana pembunuhan oleh Hitler hingga bahkan di akhir-akhir perang akan selesai, tatkala Jerman kekurangan bahan-bahan buat penggunaan baik sipil maupun militer, gerbong ternak masih terus menggelinding menuju kamp-kamp pembunuhan dalam rangka missi teror non-militer.

Dalam banyak hal, jelas sekali kemasyhuran Hitler akan tamat. Pertama, dia oleh dunia luas dianggap manusia yang paling jahanam sepanjang sejarah. Jika orang seperti Nero dan Caligula yang salah langkahnya amat tidak berarti jika dibanding Hitler dan Hitler masih saja tetap jadi lambang kekejaman selama 20 abad, tampaknya tak melesetlah jika orang meramalkan bahwa Hitler yang begitu buruk reputasinya tak terlawankan dalam sejarah akan dikenang orang untuk berpuluh-puluh abad lamanya.

Lebih dari itu, tentu saja, Hitler akan dikenang sebagai biang keladi pecahnya Perang Dunia ke-2, perang terbesar yang pernah terjadi di atas bumi. Kemajuan persenjataan nuklir seakan merupakan kemustahilan akan terjadi perang yang berskala luas di masa depan. Karena itu, bahkan dua atau tiga ribu tahun lagi dari sekarang, Perang Dunia ke-2 mungkin masih dianggap kejadian besar dalam sejarah.

Lebih jauh lagi, Hitler akan tetap terkenal karena seluruh kisah menyangkut dirinya begitu menyeramkan dan menarik, betapa seorang asing (Hitler dilahirkan di Austria, bukan Jerman), betapa seorang yang tak punya pengalaman politik samasekali, tak punya duit, tak punya hubungan politik, mampu –dalam masa kurang dari empat belas tahun– menjadi pemimpin kekuatan dunia yang menonjol, sungguh-sungguh mengagumkan. Kemampuannya selaku orator betul-betul luar biasa. Diukur dari kemampuannya menggerakkan massa dalam tindakan-tindakan penting, bisa dikatakan bahwa Hitler merupakan seorang orator terbesar dalam sejarah. Akhirnya, cara kotor yang mengangkatnya ke puncak kekuasaan, sekali terpegang tangannya tak akan cepat terlupakan.

Mungkin tak ada tokoh dalam sejarah yang punya pengaruh begitu besar terhadap generasinya ketimbang Adolf Hitler. Di samping puluhan juta orang yang mati dalam peperangan yang dia biang keladinya, atau mereka yang mati di kamp konsentrasi, masih berjuta juta orang terlunta-lunta tanpa tempat bernaung atau yang hidupnya berantakan akibat perang.

Perkiraan lain mengenai pengaruh Hitler harus mempertimbangkan dua faktor. Pertama, banyak yang betul-betul terjadi di bawah kepemimpinannya tak akan pernah terjadi andaikata tanpa Hitler. (Dalam kaitan ini dia amat berbeda dengan tokoh-tokoh seperti Charles Darwin atau Simon Bolivar). Tentu saja benar bahwa situasi di Jerman dan Eropa menyediakan kesempatan buat Hitler. Gairah kemiliterannya dan anti Yahudinya, misalnya, memang memukau para pendengamya. Tak tampak tanda-tanda, misalnya, bahwa umumnya bangsa Jerman di tahun 1920-an atau 1930-an bermaksud punya pemerintahan seperti yang digerakkan oleh Hitler, dan sedikit sekali tanda-tanda bahwa pemuka-pemuka Jerman lainnya akan berbuat serupa Hitler. Apa yang dilakukan Hitler sedikit pun tak pernah diduga akan terjadi oleh para pengamat.

Kedua, seluruh gerakan Nazi dikuasai oleh seorang pemimpin hingga ke tingkat yang luar biasa. Marx, Lenin, Stalin dan lain-lain pemimpin sama-sama punya peranan terhadap tumbuhnya Komunisme. Tetapi, Nasional Sosialisme tak punya pemimpin penting sebelum munculnya Hitler, begitu pula tak ada sesudahnya. Hitler memimpin partai itu ke puncak kekuasaan dan tetap berada di puncak. Ketika dia mati, partai Nazi dan pemerintahan yang dipimpinnya mati bersamanya.

Tetapi, meski pengaruh Hitler terhadap generasinya begitu besar, akibat dari tindakan-tindakannya di masa depan tampaknya tidaklah seberapa besar. Hitler boleh dibilang gagal total merampungkan sasaran cita-cita yang mana pun, dan akibat-akibat yang tampak pada generasi berikutnya malah kebalikannya dari apa yang ia kehendaki. Misalnya, Hitler bermaksud menyebarkan pengaruh Jerman serta wilayah kekuasaan Jerman. Tetapi, daerah-daerah taklukannya, meski teramat luas, hanyalah bersifat singkat dan sementara. Dan kini bahkan Jerman Barat dan Jerman Timur jika digabung jadi satu masih lebih kecil ketimbang Republik Jerman tatkala Hitler jadi kepala pemerintahan.

Adalah dorongan nafsu Hitler ingin membantai Yahudi. Tetapi lima belas tahun sesudah Hitler berkuasa, sebuah negara Yahudi merdeka berdiri untuk pertama kalinya setelah 2000 tahun. Hitler membenci baik Komunisme maupun Uni Soviet. Tetapi, sesudah matinya dan sebagian disebabkan oleh perang yang dimulainya, Rusia malahan memperluas daerah kekuasaannya di wilayah yang luas di Eropa Timur dan pengaruh Komunisme di dunia malahan semakin berkembang. Hitler menggencet demokrasi malahan bermaksud menghancurkannya, bukan saja di negeri lain melainkan di Jerman sendiri. Namun, Jerman Barat sekarang menjadi negeri yang menjalankan demokrasi dan penduduknya kelihatan lebih membenci kediktatoran dari generasi yang mana pun sebelum masa Hitler.


Apakah sebabnya terjadi kombinasi yang aneh dari pengaruhnya yang luar biasa besar pada saat dia berkuasa dengan pengaruhnya yang begitu mini pada generasi sesudahnya? Akibat-akibat yang ditimbulkan Hitler pada saat hidupnya begitu luar biasa besar sehingga nyatalah Hitler memang layak ditempatkan di urutan agak tinggi dalam daftar buku ini.


Kendati begitu, tentu saja dia mesti ditempatkan di bawah tokoh-tokoh seperti Shih Huang Ti, Augustus Caesar dan Jengis Khan yang perbuatannya mempengaruhi dunia yang berdaya jangkau jauh sesudah matinya. Yang nyaris sejajar kedudukannya dengan Hitler adalah Napoleon dan Alexander Yang Agung. Dalam masa yang begitu singkat, Hitler dapat mengobrak-abrik dunia jauh lebih parah dari kedua orang itu. Hitler ditempatkan di bawah urutan mereka karena mereka punya pengaruh yang lebih lama.

Rabu, 01 Mei 2013

selayang Pandang Bayern Munchen

Nama lengkap : Fußball-Club Bayern München e. V.
Julukan:
-Der FCB
-Die Bayern (Orang Bavaria)
-Die Roten (Si Merah)
Didirikan : 27 Februari 1900; 113 tahun yang lalu
Stadion : Allianz Arena, München, Jerman (Kapasitas: 69.901)
Presiden : Uli Hoeneß
Manajer : Jupp Heynckes

Sejarah
Setelah pertikaian antara manajemen klub dan pemain dari MTV 1879 München di bar “Gisela” di Schwabing, 11 pemain memutuskan untuk memisahkan diri dan membentuk klub sendiri dibawah manajemen Franz John pada 27 Februari 1900. Nama yang dipilih untuk klub yang baru adalah FC Bayern München. Ini adalah awal dari cerita sukses yang unik Kemenangan ditahun 1932 di Nuernberg pada final melawan Eintracht Frankfurt adalah kemenangan pertama dari total 20 gelar kemenangan. FC Bayern München tidak ikut saat Bundesliga dibentuk. Namun ditahun 1965, klub ini dipromosikan dan menjadi nomor tiga pada musim berikutnya dan sejak saat itu menjadi anggota tetap di Bundesliga, memenangkan 21 gelar kemenangan Bundesliga dan menempatkan klub ini diurutan utama dari Bundesliga. Sejauh ini, FC Bayern München adalah klub tersukses.

Prestasi
Piala Interkontinental :
1977, 2001

Piala/Liga Champions :
1974, 1975, 1976, 2001
Runner-up :
1982, 1987, 1999, 2010, 2012

Juara Jerman (-1963), Bundesliga/Liga Jerman (23x) :
1931/1932, 1968/1969, 1971/1972, 1972/1973, 1973/1974, 1979/1980, 1980/1981, 1984/1985, 1985/1986, 1986/1987, 1988/1989, 1989/1990, 1993/1994, 1996/1997, 1998/1999, 1999/2000, 2000/2001, 2002/2003, 2004/2005, 2005/2006, 2007/2008, 2009/2010 2012/2013
Runner-up :
1969/70, 1970/71, 1987/88, 1990/91, 1992/93, 1995/96, 1997/98, 2003/04, 2008/09, 2011/12

DFB-Pokal/Piala Jerman (15x) :
1957, 1966, 1967, 1969, 1971, 1982, 1984, 1986, 1998, 2000, 2003, 2005, 2006, 2008, 2010
Runner-up : 1985, 1999, 2012

Premiere Ligapokal/Piala Liga Jerman (10x) :
1982, 1987, 1990, 1997, 1998, 1999, 2000, 2004, 2007, 2008
Runner-up : 2006

Trofi Santiago Bernabéu (3x) :
1979, 1980, 2002

Minggu, 21 April 2013

Analisis Adolf Hitler Mengapa ia sangat Keji


Ada banyak analisis yang dilakukan para ahli untuk menjelaskan motivasi dan sisi gelap (dark side) kepribadian Adolf Hitler (20 April 1889 – 30 April 1945) sehingga sampai membantai tanpa dosa 6 juta orang Yahudi. Mircea Windham menulis dalam bukunya, “Iblis-Iblis Wanita Hitler” (2010) antara lain sebagai berikut: teori pertama, trauma penyakit sipilis yang diderita Hitler. Ihwal sipilis ini berasal dari pengakuan seorang serdadu sipil Nazi, Eugen Wasner, yang diperiksa karena dianggap menyebarkan fitnah terhadap Hitler di baraknya, pertengahan 1943. Wasner mengaku teman sekelas Hitler di Leonding, Austria.
“Adolf impoten karena sipilis”, kata Wasner. Akibatnya pernyataannya itu, Wasner dijatuhi hukuman mati.
Kisah Wasner muncul pertama kali dalam memoar Dietrich Gustrow, yang terbit pada 1981 dengan judul “Totlicher Alltag” (Rutinitas Mati). Kala itu Gustrow bertugas sebagai pembela dalam sidang Wasner. Gosip atas kondisi kelamin Hitler berkembang lebih jauh, bahkan dinyatakan, ia hanya memiliki satu buah zakar. Menurut teori Simon Wiesental, kondisi genital Adolf Hitler dianggap sebagai penyebab antisemitisme, karena sipilis yang dideritanya berasal dari seorang wanita pelacur Yahudi. Dari sinilah sentimen ras ini berkembang.

Teori kedua mengatakan, kepribadian Hitler dipengaruhi oleh serangkaian trauma. Pada tahun 1907, ketika ia berusia 18 tahun, ibunya meninggal karena serangan kanker. Ia kecewa dengan dokter Yahudi yang gagal menyelamatkan nyawa ibunya. Menurut Rudolp Binion, seorang sejarawan dari Brandeis, Hitler merepresi kemarahannya. Ini yang jadi cikal-bakal antisemitismenya.

Teori ketiga, berdasarkan analisa psikoanalisis, diantaranya dipaparkan oleh Robert Waite: “Antisemitisme Hitler dipicu oleh kenyataan bahwa ayahnya sendiri, Alois Hitler, ternyata berdarah Yahudi. Manakala dikaitkan dengan pengakuan Eugen Wasner, boleh jadi kebencian Hitler kepada bangsa Yahudi makin memuncak. Ia merasa teracuni darah Yahudi. Analisis ini berbeda dengan apa yang dinyatakan oleh Erich Fromm (23-03-1900-18-03-1980) dalam bukunya, “The Anatomy of Human Destructiveness” (1973). Justru cintanya kepada ibunya yang meninggal akibat kanker itulah yang menjadi sumber penyimpangan kepribadian Hitler. Menurut Fromm, Hitler menderita “necrophilia”, yakni mencintai mayat dan hal-hal yang berbau kematian.

Teori keempat, beberapa sejarawan, termasuk Alan Bullock (13 Desember 1914 – 2 Februari 2004), percaya bahwa antisemitisme Hitler disebabkan oleh obsesi seksual antisemitisme. Sejarawan Robert Waite merujuk periode setelah kematian ibunya, Klara Hitler (1908-1913). Kematian Klara menyebabkan runtuhnya pula ambisi Hitler untuk mendalami seni. Ia terpuruk di penampungan kaum tunawisma di Vienna. Di saat itulah ia terpikat ilustrasi pornografi dalam publikasi Ostara yang penuh obsesi antisemitisme, dengan kisah-kisah lelaki Yahudi yang dengan penuh nafsu mengumbar seks untuk mencemari perawan-perawan Arya. Editornya adalah seorang Arya dengan nama mistis, Lanz von Liebenfels.
Pengaruh Ostara itu konon tercermin dalam buku Hitler, “Mein Kampf” (Perjuanganku), yang memperlihatkan histeri seksual. “Dengan kenikmatan setan diwajahnya, Yahudi berambut hitam itu mengintai perawan-perawan Arya dan siap mencemari dengan darahnya”, demikian tulis Hitler.

Teori kelima adalah hipnoterapi. Pada tahun 1913, Hitler meninggalkan Vienna menuju Munich. Pada Agustus 1914, Perang Dunia I pecah. Ia bergabung dengan resimen Bavaria Jerman. Seperti yang ditulisnya dalam “Mein Kampf”, di medan pertempuran itu ia terkena gas beracun yang menyebabkan matanya mengalami kebutaan. Tahun 1918, melalui perawatan hipnotis Dr. Edmund Forster, ia sembuh. Dengan hipnotisnya, Dr. Forster memompa semangat nasionalismenya. Bahwa kesembuhannya sangat berarti bagi Jerman. Sejak itu, ia mentransformasi kemampuan hipnotis untuk menguasai masa.
Faktor-faktor eksternal seperti sipilis, pengaruh Ostara, atau pendekatan psikoanalisis Erich Fromm, masih dominan untuk memahami Hitler. Namun, bagi Milton Himmelfarb (21 Oktober 1918 – 4 Januari 2006), teori eksternal ini seakan menghiraukan Hitler sebagai pribadi. Seolah-olah Adolf Hitler hanyalah produk diluar dirinya. “Tidak ada Hitler, tidak akan ada Holocaust!” kata Himmelfarb. Pendekatan pada antisemitisme Kristen tradisional tidaklah cukup. “Hitler membantai orang Yahudi bukan karena ia harus melakukannya. Bukan karena didikte kekuatan historis yang abstrak. Tapi karena ia menginginkannya”, ujar Himmelfarb.

Emil Fackenheim (1916-2003), seorang teolog ahli Holocaust memperkuat dugaan Himmelfarb. Bagi Fackenheim, Hitler tak lebih dari seorang opportunis, yang tidak percaya pada apapun kecuali pada ambisinya sendiri. Dan mengambil manfaat isu antisemitisme yang telah berakar dalam masyarakat Jerman.
“Hitler adalah seorang aktor. Ia gila sanjungan. Ia ingin selalu dielu-elukan. Lihat saja perkawinannya dengan Eva Braun. Dilakukan sesaat sebelum ia bunuh diri. Untuk apa itu kalau bukan sekadar satu pertunjukan. Saya pikir ia tidak tahu lagi batas antara bersandiwara dan bersungguh-sungguh”, kata Fackenheim.
Memang mengejutkan apabila tuduhan Fackenheim benar. Enam juta orang Yahudi terbantai gara-gara seorang aktor. Alasan antisemitisme Hitler hanyalah sebuah trik (tipuan) seorang aktor. Menurut Fackenheim, tidak ada faktor-faktor patologi, melainkan murni pembunuh berdarah dingin. “Hitler adalah sosok setan yang radikal !” katanya.

Lalu apakah hanya Hitler yang mampu berbuat jahat/kejam ? Banyak pakar psikologi, terutama psikoanalisis klasik (seperti Freud, McDougall, Lorenz), beranggapan bahwa hakikat setiap manusia itu adalah buruk, liar, kejam, kelam, non-etis, egois, sarat nafsu, dan berkiblat pada kenikmatan jasmani. Sebagaimana pengalaman fisiologis rasa lapar, haus, atau bangkitnya dorongan seksual, maka dapat dibuktikan bahwa manusia mempunyai naluri bawaan atau dorongan dasar untuk berperilaku agresif. 

Sigmund Freud (Kowara, 1991) menyatakan bahwa selain diri manusia memuat naluri kehidupan (life instincts), juga terdapat apa yang disebut naluri kematian atau “Thanatos” (kadang-kadang Freud menyebutnya naluri merusak), yang ditujukan kepada perusakan atau penghancuran atas apa yang telah ada (organisme atau individu itu sendiri). Freud mengajukan gagasan mengenai naluri kematian ini berdasarkan fakta yang ditemukan bahwa tujuan semua makhluk hidup atau organisme adalah kembali kepada keadaan anorganis. Atau, meminjam pernyataan Schopenhauer, tujuan dari seluruh kehidupan adalah kematian. Freud menambahkan bahwa adanya dua jenis naluri yang bertolak belakang ini relevan dengan dua proses pada taraf biologis dari setiap organisme, yakni proses pembentukan (construction) dan proses penghancuran (destruction). Contoh proses pada taraf biologis ini adalah proses anabolisme dan proses katabolisme dalam sel-sel setiap organisme.

Freud selanjutnya menyatakan bahwa naluri kematian itu pada individu bisa ditujukan kepada dua arah, yakni kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain atau ke luar diri. Naluri kematian yang diarahkan kepada diri sendiri tampil dalam tindakan bunuh diri atau tindakan “masokhis” (tindakan menyakiti diri sendiri), sedangkan naluri kematian yang diarahkan ke luar atau kepada orang lain menyatakan diri dalam bentuk tindakan membunuh, menganiaya atau menghancurkan orang lain. Sehubungan dengan naluri kematian ini Freud percaya, bahwa pada setiap orang, di alam tak sadarnya, terdapat keinginan untuk mati, sebuah keinginan yang selalu direpres sekuatnya oleh ego. Dan percobaan atau tindakan bunuh diri bisa terjadi apabila represi ego ini melemah.

Jika menelusuri kembali riwayat hidup dan kehidupan Hitler dapat dijumpai bahwa ia sebetulnya tetap sama dengan kebanyakan manusia pada umumnya, memiliki hati atau perasaan manusiawi. Hitler juga sayang anak-anak, sayang binatang, cinta kepada anak buahnya, memuja dan menikahi seorang wanita bernama Eva Braun. Hanya saja mungkin “naluri kematian” bawaannya, meminjam istilah Freud, lebih kuat daripada “naluri kehidupan”nya, sehingga “dark-side”nya tampak lebih dominan.  

Dan kitapun sebenarnya memiliki “dark-side” ataupun masa-masa kelam dalam pengertian pernah berbuat khilaf, salah, atau dosa. Jadi perbedaan antara Hitler dan “dark side” kita sebenarnya sangatlah tipis. Kitapun sebenarnya bisa berubah wujud menjadi “Hitler-Hitler” yang lain, atau bahkan lebih buruk lagi !!!

Sigmund Freud Psikoanalisa Teori ID, EGO dan SuperEgo

 Menurut Sigmund Freud, kepribadian terdiri dari 3 elemen. Ketiga unsur kepribadian itu dikenal sebagai Id, Ego, dan Superego, yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.
1.  Id 
Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir atau sistem dasar kepribadian. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sehingga komponen utama kepribadian.Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan  atau ketegangan.
 Sebagai contoh, peningkatan rasa lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan atau minum. id ini sangat penting awal dalam hidup, karena itu memastikan bahwa kebutuhan bayi terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis sampai tuntutan id terpenuhi.
Dorongan-dorongan dari Id dapat dipusatkan melalui proses primer yang dapat diperoleh dengan tiga cara: 
a.       Perbuatan 
Seorang bayi yang sedang timbul dorongan primitifnya,misalnya menangis karena ingin menyusui ibunya. Bayi akan berhenti menangis ketika ia menemukan putting susu ibunya dan mulai menyusui. 
b.      Fungsi kognitif
Yaitu kemampuan individu untuk membayangkan atau mengingat hal-hal yang memuaskan yang pernah dialami dan diperoleh. Dalam kasus ini individu akan berhayal terhadap hal-hal yang nikmat atau menyenangkan.
 
c.       Ekspresi dari Afek atau Emosi
Yaitu dengan memperhatikan emosi tertentu akan terjadi pengurangan terhadap dorongan-dorongan premitifnya.  
Namun, segera memuaskan kebutuhan ini tidak selalu realistis atau bahkan mungkin. Jika kita diperintah seluruhnya oleh prinsip kesenangan, kita mungkin menemukan diri kita meraih hal-hal yang kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan keinginan kita sendiri. Perilaku semacam ini akan baik mengganggu dan sosial tidak dapat diterima. Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui proses utama, yang melibatkan pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan.

2.   Ego 

Ego adalah dibawa sejak lahir, tetapi berkembang seiring dengan hubungan individu dengan lingkungan. Prinsipnya realitas atau kenyataan. Untuk bisa bertahan hidup,individu tidak bisa semata-mata bertindak sekedar mengikuti impuls-impuls atau dorongan-dorongan,individu harus belajar menghadapi realitas.sebagai ilustrasi dari pernyataan ini,”seorang anak harus belajar bahwa dia tidak bisa mengambil makanan karena terdorong secara impulsif ketika dia melihat makanan”. Jika ia mengambil makanan itu dari orang yang lebih besar,maka ia akan kena pukul. Ia harus memahami realita sebelum bertindak. Bagian dari jiwa atau struktur kepribadian yang menunda impuls secara langsung dan memahami realita seperti ini disebut ego. Menurut Freud, ego adalah struktur kepribadian yang berurusan dengan tuntutan realita,berisi penalaran dan pemahaman yang tepat. Ego berusaha menahan tindakan sampai dia memiliki kesempatan untuk memahami realitas secara akurat,memahami apa yang sudah terjadi didalam situasi yang berupa dimasa lalu,dan membuat rencana yang realistik dimasa depan. Tujuan ego adalah menemukan cara yang realistis dalam rangka memuaskan Id. 
Ego mempunyai beberapa fungsi diantaranya:
a)     Menahan menyalurkan dorongan
b)     Mengatur desakan dorongan-dorongan yang sampai pada kesdaran
c)     Mengarahkan suatu perbuatan agar mencapai tujuan yang diterima
d)     Berfikir logis
e)   Mempergunakan pengalaman emosi-emosi kecewa sebagai tanda adanya suatu yang salah,yang tidak benar,agar kelak dapat dikategorikan dengan hal lain untuk memusatkan apa yang akan dilakukan sebaik-baiknya. 
3.   Super Ego 

Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego. superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua  dan masyarakat - kami rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian.
Ada dua bagian superego: 

Yang ideal ego mencakup aturan dan standar untuk perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang disetujui oleh figur otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini menyebabkan perasaan kebanggaan, nilai dan prestasi. Nasehat dari Bokap dan Nyokap lo adalah bagian dari Superego gan jadi itu standar acuan berperilaku berdasarkan nilai moral moral yang orang tua kita ajarkan.
Hati nurani mencakup informasi tentang hal-hal yang dianggap buruk oleh orang tua dan masyarakat. Perilaku ini sering dilarang dan menyebabkan buruk, konsekuensi atau hukuman perasaan bersalah dan penyesalan. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, prasadar dan tidak sadar.

Interaksi dari Id, Ego dan Superego 

Dengan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin timbul antara ego, id dan superego. Freud menggunakan kekuatan ego istilah untuk merujuk kepada kemampuan ego berfungsi meskipun kekuatan-kekuatan duel. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu.


faktor pembentukan prilaku dan kepribadian yang sehat adalah bisa menyeimbangkan antara id, ego, dan superego. Seimbang ya gan jangan pada menuntut hak saja tetapi kewajiban juga seharusnya dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Rabu, 17 April 2013

PSIKOANALISA Freud Teknik DALAM Psikologi KONSELING

   Sejarah Perkembangan
 
Sigmund Freud (1856-1939) adalah pencetus pendekatan psikoanalisa. Ia adalah anak tertua dari delapan bersaudara yang hidup dalam keluarga otoriter. Pada mulanya ia belajar kedokteran, dan pada tahun 1880 menjadi salah seorang peneliti medis pertama yang meneliti unsur yang terdapat dalam tanaman coca. Selanjutnya Freud menghabiskan beberapa tahun di Paris dalam rangka belajar pada Charcot salah seorang psikoterapis paling populer di zamannya, yang kemudian mengajarkan teknik hipnosis. Dari sinilah kemudian ia mengembangkan metodenya sendiri yang disebut asosiasi bebas karena merasa bahwa hipnosis tidak begitu efektif. Dalam asosiasi bebas terdapat tindakan meminta pasien untuk berbaring dalam posisi rileks dan mengatakan apapun dalam pikirannya. Materi bawah sadar yang tercurahkan antara lain emosi yang kuat, ingatan terpendam, dan pengalaman seksual di masa kanak-kanak. Teori Freud sangat dipengaruhi oleh pengalaman emosional pribadinya dan pengalaman selama menangani pasiennya.
 
Metode terapi Sigmund Freud disebut psikoanalisis. Sejak teori dan terapinya menjadi dikenal dan digunakan oleh orang lain (mulai sekitar 1990), idenya terus dikembangkan dan dimodifikasi oleh para penulis dan praktisi psikoanalisa lainnya.
Sumbangan utama dari ide Freud yang bersejarah:
1.         Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami.
2.         Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar.
3.         Perkembangan pada masa dini kanak-kanak berpengaruh pada masa dewasa.
4.         Psikoanalisa menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk mengatasi kecemasan.
5.         Psikoanalisa memberikan cara-cara mencari keterangan melalui analisis mimpi.

B.            Hakikat Manusia
Sigmund Freud memandang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministik, mekanistik, dan reduksionistik. Menurut Freud manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah, dan oleh peristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima-enam tahun pertama dalam kehidupan. Menurutnya, tingkah laku dideterminasi oleh energi psikis yaitu id, ego, dan superego. Ia juga melihat tingkah laku sebagai sesuatu yang dinamis dengan transformasi dan pertukaran energi di dalam kepribadiannya.

C.           Perkembangan Perilaku
 
1.      Struktur Kepribadian
a)      Id merupakan
Id dalah sistem kepribadian yang orisinil. Kepribadian setiap orang hanya terdiri dari Id ketika dilahirkan. Id merupakan tempat bersemayam naluri-naluri, kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id bekerja menggunakan prinsip kesenangan.
b)      Ego
Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Ego adalah tempat bersemayam intelegensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan impuls-impuls buta dari Id. Ego bekerja menggunakan prinsip kenyataan.
c)      Superego
Super ego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian. Superego adalah kode moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Super ego bekerja menggunakan prinsip conscience dan ego ideal.


2.      Perkembangan Kepribadian
 
Menurut Sigmund Freud perkembangan psikoseksual ditandai dengan beberapa tahapan dengan zona kesenangan yang dominan pada waktu tertentu:
a)      Tahun Pertama Kehidupan: Fase Oral
Pada fase ini mulut merupakan zona utama kesenangan dan kepuasan dasar didapat saat menggigit dan menyedot.
b)      Usia Satu Sampai Tiga Tahun: Fase Anal
Pada fase ini kepuasan dirasakan saat menahan maupun buang air besar.
c)      Usia Tiga Sampai Lima Tahun: Fase Falik
Pada fase ini zona kesenangan terletak di organ seks, baik pria maupun wanita harus berupaya melalui hasrat seksual.
d)     Usia Lima Tahun Sampai Masa Puber: Fase Laten
Pada fase ini energi difokuskan pada aktivitas berpasangan dan penguasaan pembelajaran kognitif, serta keahlian fisik secara pribadi.
e)      Masa Puber: Fase Genital
Pada fase ini jikalau telah berjalan dengan baik, maka masing-masing gender merasa lebih tertarik satu sama lain dan muncul pola interaksi heteroseksual yang normal.

3.      Pribadi Sehat dan Bermasalah
 
a)      Pribadi Sehat
Memiliki mekanisme pertahanan yang baik. Maksudnya pribadi yang bisa mengorganisir struktur kepribadiannya dengan baik dan bisa menyelaraskan antara id, ego, dan superegonya. Dalam hal ini individu tidak mengalami pengalaman frustasi yang berlebihan dan Ego bertindak secara rasional dalam mengambil tindakan-tindakan untuk mengatasi kecemasan yang muncul.


b)      Pribadi Bermasalah
Memiliki mekanisme pertahanan yang buruk. Maksudnya pribadi yang tidak bisa mengorganisir struktur kepribadiannya dengan baik dan tidak bisa menyelaraskan antara id, ego, dan superegonya. Ego bisa saja membiarkan dorongan-dorongan atau menekan perasaan-perasaan seksual dengan melakukan tindakan yang irasional dalam menghadapi kecemasan.

D.           Hakikat Konseling
 
Konseling merupakan suatu proses kegiatan mengamati dan memahami kehidupan konseli yang menurut Freud sangat dideterminasi oleh pengalaman psikoseksual pada lima-enam fase pertama kehidupan atau masa kanak-kanak. Konseling psikoanalisa memperhatikan faktor-faktor ketidaksadaran yang terus-menerus mendorong dan mempengaruhi perilaku individu. Berbagai usaha dalam memahami kehidupan dan membantu konseli dalam konseling psikoanalisa adalah dilakukan dengan cara menginterpretasi ungkapan-ungkapan perasaan dan cerita konseli melalui hubungan tranferensi antara konselor adan konseli.  

E.            Kondisi Pengubahan
 
1.      Tujuan
a)      Pada dasarnya konselor menyadarkan konseli dari ketidaksadaran menuju ke kesadaran atas dorongan-dorongan yang menyebabkan perilaku bermasalah.
b)      Memperkuat agar ego lebih riel dalam bertindak, serta mampu berkembang sesuai dengan potensi-potensi yang dimiliki dan dapat beradaptasi dengan lingkungan dengan lebih baik.

2.      Sikap, peran dan tugas konselor
 
a)  Sedikit bicara tentang dirinya dan jarang sekali menunjukkan reaksi pribadinya.
b)  Percaya bahwa apapun perasaan konseli terhadap konselor merupakan produk dari perasaannya yang diasosiakan dengan orang yang penting di masa lalunya.
c)   Melakukan analisis  terhadap perasaan-perasaan konseli adalah esensi terapi.
d) Menciptakan suasana agar konseli merasa bebas megekspresikan pikiran-pikiran yang sulit setelah beberapa kali pertemuan tatap muka. Dengan cara meminta konseli berbaring di sofa dan terapis duduk di arah belakang kepala konseli sehingga tidak terlihat.
e) Berupaya agar konseli mendapat wawasan terhadap permasalahan dengan mengalami kembali dan kemudian menyelesaikan pengalaman masa lalunya.
f)   Membantu konseli menemukan kebebasan bercinta, bekerja, dan bermain.
g)  Membantu konseli menemukan kesadaran diri, kejujuran dan hubungan pribadi yang efektif, dapat mengatasi kecemasan dengan cara realistis dan dapat mengendalikan tingkah laku impulsif dan irasional.

3.      Sikap, peran dan tugas konseling
 
a) Berkomitmen untuk mengikuti proses terapi yang membutuhkan waktu cukup lama.
Menyampaikan seluruh perasaan, pengalaman, ingatan, dan fantasi yang dialami konseling.
c) Berkomitmen untuk menyelesaikan problem-problem yang dihadapi secara bertahap melalui sesi dan terminasi.

4.      Situasi hubungan
Situasi hubungan antara konselor dan terapis psikoanalisa adalah konselor cenderung untuk bertindak alami terhadap klien mereka. Alasannya adalah para konselor sedang berusaha untuk mempresentasikan diri mereka sebagai ”layar kosong”, tempat klien dapat memproyeksikan fantasinya atau asumsi yang terpendam berkenaan dengan hubungan yang amat dekat dengan dirinya. Dengan menjadi netral dan tidak terikat, maka terapis dapat meyakinkan bahwa perasan klien terhadap dirinya bukan akibat apa yang dilakukannya.

F.            Mekanisme Pengubahan
 
1.      Tahap-tahap Konseling
Tidak ada seperangkat praktik dalam psikodinamika yang disepakati bersama. Namun sesuai dengan tujuan konseling ini membantu konseli memahamai dorongan-dorongan ketidaksadaran ke kesadaran dan mengembangkan ego agar berkembang lebih baik, dalam hal ini ada beberapa isu penting dalam praktik konseling:
a)      Asesmen dilakukan oleh konselor agar memahami sejauhmana kemampuan konseli dalam merefleksikan diri dan membangun hubungan dengan konselor, sehingga konseling bisa dilakukan.
b)      Menegakkan aturan dan batasan yang jelas pada awal dan akhir sesi, keajekan pertemuan, jeda libur dan absen, memberikan latar belakang, dimana manipulasi atau upaya konseli untuk mengendalikan bisa dilihat dan selanjutnya dieksplorasi bersama konseli.
c)      Pentingnya wawasan konseli terhadap ekspresi emosi yang dirasakan sebagai bentuk katarsis konseli.
d)     Konseli seringkali akan mengulang perilakunya, pikirannya dan perasaannya di depan konselor yang dipandang sebagai bagian dari hubungan masa lalu. Oleh karenanya interpretasi transferensi oleh konselor bisa menyatukan sudut setiga pengalaman (orangtua atau masa lalu yang jauh, orang lain atau masa lalu yang tak terlalu jauh dan konselor atau saat ini atau transferensi), sehingga memberi wawasan pada pola perasaan atau perilakunya.
e) Pemeranan, dimana konseli tidak mampu mengatakan sesuatu, namun merasakan kebutuhan untuk memerankan perasaan, dapat dilihat sebagai cara agar ia tidak perlu bicara.
f)    Fokus kerja konseling ada yang mengatakan penting dan tidak peting.
g)  Ketika konseli merasakan perasaan negatif yang sangat kuat terhadap konselor, seringkali ada hasrat yang lebih besar di pihak konseli untuk meninggalkan sesi konseling. Dalam hal ini sikap konselor tidak boleh bersikap defensif, namun sebaliknya harus membantu konseli untuk memahami perasaan yang sedang melingkupi.

2.      Teknik-teknik Konseling
 
a)      Penggunaan hubungan sistematik antara klien dan konselor
Konselor dan terapis psikoanalisa cenderung untuk bertindak alami terhadap klien mereka. Alasannya adalah para konselor sedang berusaha untuk mempresentasikan diri mereka sebagai ”layar kosong”, tempat klien dapat memproyeksikan fantasinya atau asumsi yang terpendam berkenaan dengan hubungan yang amat dekat dengan dirinya. Dengan menjadi netral dan tidak terikat, maka terapis dapat meyakinkan bahwa perasan klien terhadap dirinya bukan akibat apa yang dilakukannya. Proses ini disebut pemindahan (transfered) dan merupakan alat yang sangat berguna dalam terapi psikoanalisa.
b)      Melakukan identifikasi dan analisis terhadap penolakan dan pertahanan
Ketika klien membicarakan permasalahannya terapis mungkin bisa mencatat bahwa si klien mengelak, memotong, atau mempertahankan diri dari perasaan atau fakta tertentu. Freud memandang penting untuk mengetahui sumber penolakan tersebut, dan kondisi tersebut akan menarik perhatian klien apabila terjadi terus menerus.



c)      Asosiasi bebas atau ”katakan apapun yang muncul dalam pikiran”
Tujuannya adalah untuk membantu klien membicarakan dirinya sendiri dengan cara yang cenderung tidak terpengaruhi oleh mekanisme pertahanan diri.
d)     Menganalisis mimpi dan fantasi
Tujuannya adalah untuk menguji materi yang muncul dari level kepribadian seseorang yang lebih dalam dan lepas dari pertahanan dirinya.
e)      Interpretasi
Para konselor psikoanalitik akan menggunakan proses yang digambarkan di atas, yakni transference, mimpi, asosiasi bebas, dan lain-lain untuk mengumpulkan materi guna melakukan interpretasi. Melalui penafsiran mimpi, kenangan, dan transference, seorang konselor berusaha membantu pasiennya utnuk memahami akar permasalahn yang dihadapinya dan kemudian mendapatkan kontrol yang lebih besar terhadap permasalahan tersebut serta lebih banyak kebebasan untuk melakukan tindakan yang berbeda.
f)       Beragam teknik lain
Ketika berhadapan dengan anak-anak bukanlah suatu hal yang realistis untuk mengharapkan mereka mampu menuangkan konflik dalam diri mereka ke dalam kata-kata. Sebagai gantinya para analisis anak menggunakan mainan dan permainan untuk memungkinkan anak mengeksternalisasi ketakutan dan kekhawatirannya. Beberapa orang terapis yang menangani orang dewasa juga menemukan hasil yang menggembirakan dengan menggunakan teknik ekspresif seperti seni, mematung, dan membuat puisi. Teknik proyeksi seperti Thematic Apperception Test (TAT) juga dapat menghasilkan hal yang sama. Dan pada akhirnya, para terapi psikodinamik biasanya mendorong para klien untuk menulis catatan harian atau autobiografi sebagai cara untuk mengeksplorasi kondisi masa lalu dan masa sekarang mereka.


G.           Hasil-hasil Penelitian
 
Gagasan Sigmund Freud dikembangkan oleh para pengikut Psikoanalisis berikutnya, dalam hal ini akan disebutkan hasil penelitian psikoanalisis kontemporer Erik Erikson yang memiliki perbedaan dengan psikoanalisis klasik Sigmund Freud. 
 
Psikoanalisis Freud menekankan pada pentingknya proses intrapsikis yang didominasi oleh Id sebagai faktor utama dalam mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang yang terjadi pada lima-enam tahun pertama. Berbeda dengan Erikson yang dikenal dengan teori perkembangan psikososial menekankan bahwa perkembangan individu terjadi sepanjang hayat dan menekankan pentingnya peran utama ego dalam mengontrol dorongan-dorongan dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

H.           Kelemahan dan Kelebihan Teknik Psikoanalisa dalam Konseling
 
Beberapa kelemahan konseling psikoanalisis adalah sebagai berikut:
  1. Pendekatan ini menghabiskan waktu dan biaya yang banyak.
  2. Pendekatan ini tidak terlalu berguna bagi konseli lansia atau bahkan sekelompok yang bervariasi. Yang paling banyak mendapatkan keuntungan dengan pendekatan ini adalah pira paru baya dan wanita yang tertekan dalam hidupnya.
  3. Di luar harapan Freud, pndekatan ini telah diklaim secara eksklusif oleh para psikiater.
  4. Pendekatan ini berdasarkan pada banyak konsep yang tidak mudah dipahami atau dikomunikasikan.
  5. Pendekatan ini membutuhkan ketekunan.
  6. Pendekatan ini tidak begitu cocok dengan kebutuhan kebanyakan individu yang mencari konseling profesional.

Beberapa kelebihan konseling psikoanalisis adalah sebagai berikut:
  1. Pendekatan ini menekankan pada pentingnya seksualitas dan alam tidak sadar dalam tingkah laku manusia.
  2. Pendekatan ini memberikan sumbangan pada penelitian-penelitian empiris; bersifat heuristik.
  3. Pendekatan ini menyediakan dasar teoritis yang mendukung sejumlah instrumen diagnostik.
  4. Pendekatan ini tampaknya efektif bagi mereka yang menderita berbagai macam gangguan, termasuk histeria.
  5. Pendekatan ini menekankan pentingnya tahap perkembangan pertumbuhan.

I.              Sumber Rujukan

Komalasari, dkk., 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks
Gladding, S.T. 2012. Konseling: Profesi yang Menyeluruh. Jakarta: Indeks
Palmer, S. 2011. Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar